andi214aan@gmail.com
Secara Konstitusional (Anggaran Dasar/AD) Himpunan Mahasiswa Islam pada pasal 9 disebutkan bahwa “HMI berperan sebagai oraganisasi perjuangan”. Artinya apa?, setiap aktivitas HMI merupakan wadah suatu perjuangan kader-kader HMI dalam kehidupan sehari-hari.
Mengingat
sejarah, jika kita membicarakan apa yang diperjuangkan HMI dari sejak didirikan
oleh Lafran Pane berserta kawan-kawan, pada tanggan 5 Februari 1947 M, dua
tahun setelah Kemerdekaan Republik Indonesia hingga saat ini, tentunya setiap
fase-fase HMI pasti berbeda. Karena setiap perkembangan zaman berbeda dengan
keadaan kondisi dan tuntunan. Akan tetapi, walau berbeda zaman dan kondisinya,
secara esensinya tidak pernah lepas dari tujuan-tujuan HMI yang mana tujuan HMI
pun berubah sejak didirikannya hingga saat ini.
Kondisi
yang dihadapi oleh HMI dari masa ke masa sangatlah banyak perbedaan. Jika kita
lihat kebelakang, peran HMI sebagai organsasi perjuangan tidak lepas dari tujuan
awal didirikannya organisasi ini. Artinya, dibalik perjuangan HMI bermuara
kesuksesan apa yang menjadi tujuan HMI. HMI kita kenal sebagai organisasi
dinamis harus terus bisa bertahan dalam setiap tantangan yang dihadapinya.
Untuk itulah perjuangan harus dapat dimaknai dalam ber-HMI,sehingga kita terus
menjadi semangat. Walau berbeda zaman atau tantangan dan kondisinya, ghairah
perjuangan harus terus ada dalam diri setiap kader Himpunan.
Jikalau
kita mendalami makna dari kata “Perjuangan” dalam peran HMI seperti disebutkan
dalam pasal 9 AD HMI, maka kita akan terus mencintai, mengharumkan nama baik
organisasi dan selalu setia pada pengabdian HMI. Memang perlu kita ketahui
berjuang itu adalah suatu yang tidak enak, tidak nyaman, ada yang harus
dikorbankan, penuh pujian dan tantangan, sakit, bahkan menguras tenaga dan
pikiran. Berjuang yang pernah kita alami harus siap lapar, kurang tidur, siap
lelah dan hal-hal yang tidak enak menurut perspektif orang banyak.
Kita
lihat tokoh-tokoh HMI di setiap fase telah menunjukkan bagaimana perjuangan
HMI. Misalnya, kita lihat perjuangan para pendiri HMI, sosok abangda Lafran
Pane menjadi tokoh sentral dan perjuangannya sungguh luar biasa. Perjuangan HMI
pada awal-awal berdirinya langsung menghadapi penjajah dan kelompok-kelompok
komunis yang mencoba mengganggu stabilitas kemerdekaan yang masih baru.
Selanjutnya, jika kita lihat bagaimana sejarah perjuangan HMI pada tahun
1960-an, yang mana HMI mengalami tekanan dan fitnah. HMI hampir saja dibubarkan
dan komunis selalu menyerang HMI. Akan tetapi semangat perjuangan kader-kader
HMI tetap masih hidup. Walaupun nyawa menjadi taruhannya, kader-kader HMI pada
masa itu tetap berjuang. Semata-mata berjuang demi organisasi (HMI), agama
(Islam), negara dan bangsa (ummat).
Akan
tetapi, jika di HMI kita ingin mencari kenyamanan, kesuksesan materil dan non-materil,
mencari eksistensialisme, mengamankan perut, jabatan kekuasaan, mengamankan
kantong, mengharapkan gaji atau penghasilan, dan hanya mencari enak atau
kesenangan, itu namanya HMI bukan organisasi perjuangan. Alangkah lebih
baiknya, kita keluar dari HMI dan mencari organisasi yang menampung niat-niat
jahat itu. Niat-niat yang tidak bisa menjaga independensi dan idealismenya
mahasiswa itu.
Untuk
itu setiap kita harus meluruskan niat dalam ber-HMI. Ahmad Wahib pernah berkata
bahwa HMI ini harus dijadikan lembaga pendidikan dan pembelajaran. Maka dari
itu, menurut saya perjuangan kita harus dalam dunia pendidikan, baik secara
pendidikan formal dan non-formal. Hal ini juga senada dengan Tujuan HMI yang
disebutkan dalam pasal 4 AD HMI. HMI bukan organisasi partai politik atau sayap
partai politik. Artinya, kerja-kerja di HMI tidak seperti asas-asas kerja di
suatu lembaga politik yang hari ini terkesan buruk. HMI adalah organisasi
kader, bukan organisasi massa.
Orang
bijak lestari berkata, “tidak ada perjuangan yang sia-sia.” Perjuangan HMI
jangan pernah berhenti, sebab guru-guru kita mengajarkan jangan sesekali
menghitung hasil perjuangan, tapi mesti dinilai adalah proses perjuangannya.
#NextTimePerjuangan

Tidak ada komentar:
Posting Komentar