Membincangkan kepemimimpinan memang
tidak akan lekang dimakan waktu. Disetiap selingan masa, di setiap zaman akan
ada sosok-sosok pemimpin yang dikenang. Pemimpin semacam ini melekat akan
teringat karena memiliki kharisma. Karena acapkali dibentuk oleh pahit getirnya
pengalaman semasa hidup. Merangkak memulai dari bawah, beberapa kali jatuh
kemudian bangkit lagi. Lalu akhirnya berdiri tegak di atas tampuk
kepemimpinannya. Namun uniknya lagi, ketika kepemimpinan itu ada di tangannya
namun tidak lantas untuk menyombongkan diri. Karena kita harus sadar pernah
memulai dari bawah.
Selain memiliki kesederhanaan, kita
harus memiliki kompetesi yang layak sebagai pemimpin. Karena berlaku untuk
kesederhanaan dan merakyat saja kehidupan tidak cukup. Kita harus mampu mengelola
segala sumberdaya yang ada serumit apapun tantangan akan menjadi sebuah
perjuangan. Sudah barang tentu pemimpin seperti itu bukan menjadi anak kemaren
sore yang baru muncul dan minim pengalaman lalu menjadi besar seperti sekarang.
Pemimpin seperti ini juga memiliki
misi jangka panjang. Kita akan menjadi blusukan mencari talenta terbaik lalu
kemudian melakukan pengkaderan agar performa terbaik organiasasi bisa dijaga
dan diwariskan. Again, hanya pemimpin yang telah banyak makan asam garam lah yang
dapat melakukan hal itu.
Semua kecakapan ini hanya akan
berhasil jika kita punya interpersonal skills yang mumpuni. Kepemimpinan yang
berhasil harus memiliki kemampuan ini. Nah, kita akan menarik benang merah
contoh praktek pengalaman yang saya lalui.
Hindari Sikap Mengkritik dan
Memberi Komentar Negatif-Lebih Banyak Apresiasi
Acapkali
sejumlah orang terlalu mudah memberikan kritik. Bahkan seringkali nyinyir
terlalu mudah memberikan komentar negatif dan sigap melihat kejelekan orang
lain. Padahal memberikan kritik dan komentar negatif justru bisa membuat
penerimanya sakit hati dan enggan melakukan perubahan. Kritik merupakan tindakan
yang sia-sia karena menempatkan seseorang pada posisi defensif dan biasanya
posisi tersebut malah membuat orang yang dikritik berusaha untuk membuat
pembenaran.
Jadilah Pendengar yang Baik dan
Penuh Atensi
Menjadi pendengar yang baik itu
tidak gampang, kebanyakan orang lebih ingin didengar dari pada mendengar.
Mendengarkan itu butuh kesabaran yang ekstra karena mungkin kita hanya
mendengar curhatannya, keinginannya dan apa-apa yang menjadi kebutuhannya.
Kita mungkin menemui rekan kerja
yang cenderung ingin selalu mendominasi pekerjaan. Membosankan bukan?
Seolah-olah tertutup ruang untuk menyampaikan ide atau gagasan. Sebaliknya,
kita akan merasa senang bilamana rekan kerja mau menanggapi pembicaraan kita.
Dengarkan dengan penuh antusias, sehingga teman bicara kita merasa dihargai.
Ajak Bicara tentang Hal yang
Menarik dan Penting bagi Lawan Bicara Kita
Pelajaran ini lebih mengajarkan kita
kepada membangun Netwrorking. Pancing
dan ajaklah lawan bicara kita bercerita tentang hal yang menarik dan penting
bagi mereka. Sebab, jujur saja saya juga merasa akan tertarik dan lebih
antusias bila bicara tentang minat saya. Seperti blogging dan menulis. Nah,
cara seperti ini juga bisa kita coba. Bila mendapati teman bicara memiliki hobi
yang sama dengan kita atau jika tidak, kita bisa saling tukar pengalaman.
Dengan saling menggali pengalaman terbaik masing-masing.
Jadi, sekali menyelam 2 pulau
terlampaui. Selain membangun networking, di saat yang sama kita tengah
membangun interpersonal skill.
Demikian pelajaran beharga yang
layak dikenang. Semoga jiwa kepemimpinan kita selalu bertambah mekar dan
membawa cahaya fitrah bagi sesama.

