Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Pahlawan darah yang tumpah untuk Indonesia, 17 Agustus 1945 ketika di seluruh negeri mendengar pekik merdeka dan 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia telah mencapai cita-cita merdeka. Kata merdeka menjadi bersatu pada bahu membahu berjuang pantang menyerah terus menyerang. Merdeka pun menjadi semangat patriot terpatri didalam jiwa yang takkan luntur meski nyawa taruhan nya. Merdeka adalah setiap darah yang tertumpah tidak akan menjadi sia-sia, karena demi bangsa yang merdeka tidak ada yang sia-sia. Merdeka pun menjadikan mereka yang gugur akan selalu terkenang, mereka yang gugur telah menunaikan cita-cita, mereka yang gugur telah berjuang demi satu kata yaitu MERDEKA. Merdeka atau mati bukanlah hanya semboyan. Lebih baik mati dari pada tidak merdeka, untuk apa hidup kalau hidup tertawan, lebih baik mati daripada pasrah dan menyerah. Cita-cita sudah digapai, janji sudah di tunaikan. Kita telah merdeka merdeka merdekalah sampai selama-lamanya. Pahlawan terimakasih untuk hadiah ini kami berjanji akan terus menjaganya, meneruskan perjuanganmu di negeri ini, menjaga kehormatan dan bangsa selama-lamanya. Betapa kami tak akan sanggup menghinakannya, karena darahmu telah tertumpah untuk kami para penerusmu ini, karena darah dan jiwa patriotmu telah mengalir didalam sanubari, betapa itulah kami tak sanggup mengingkarinya. Terimalah penghargaan dari kami penerus perjuanganmu ini, Terimalah doa dari kami yang kau perjuangkan, tenanglah kau di sana PAHLAWAN. Sebagai regenerasi penerus yang hanya menikmati kemerdekaan dari perjuangan para pahlawan kita, sudah sepantasnya kita menghargai jasa merdeka dengan menjaga persatuan dan kesatuan negeri ini, NKRI harga MATI. Tuhan tidak akan mengubah nasib sebuah bangsa, sebelum bangsa itu sendiri mengubahnya (Bung Karno). Dalam menghadapi musuh, tak ada yang lebih mengena dari senjata kasi sayang (Tjuk Nyak Dhien). Pahlawan yang setia itu berkorban, bukan buat dikenal namanya, tetapi semata-mata membela cita-cita (Muhammad Hatta). Kita itu boleh punya prinsip asal jangan fanatik, karena fanatik itu ciri orang bodoh. Sebagai orang islam kita harus tunjukkan, kalau kita bisa bekerja sama kepada siapapun, asal 'Lakum Dinikum Waliyadin'. Agamamu, Agamamu, Agamaku, Agamaku (KH. Ahmad Dahlan). Kita tunjukkan bahwa kita adalah benar-benar orang yang ingin merdeka, lebih baik kita hancur libur dari pada tidak merdeka (Bung Tomo). Jika engkau malu dan takut berbuat suatu kebaikan, maka tak akan kau temui kemajuan sedangkan pun (Soerkarno).
#CatatanSejarahIndonesia.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar